• HOME
  • PROFILE
  • SERVICES
  • THE NEW ONLINE TRAINING PROGRAM
  • CONTACT
  ANDES AND ASSOCIATES

ANDES AND ASSOCIATES 
HUMAN CAPITAL &
​MANAGEMENT CONSULTANT


Andes And Associates, bergerak di bidang : Human Resouces Management Consultant ; HRM Strategic Mapping, HRM Consultation, HRM Implementation (fasilitator sistem terapan manajemen Human Resources), Psychological Assessment ; Selection / Psycho Test, Potential Mapping, Promotion, Training & Development ; in-house training, Psychological Consultation ; Adult Problem, Adolescent Problem, Marriages Counseling. Andes And Associates membantu perusahaan klien dalam usaha mendukung proses pengembangan & peningkatan sumber daya manusia, sehingga dapat tercapai tingkat daya saing, keuntungan dan pertumbuhan klien yang optimal.
VISI
​
Andes And Associates, adalah mitra terpercaya yang akan mengantarkan organisasi / perusahaan klien selangkah lebih baik dibandingkan kompetitor​
MISI
Andes And Associates, menjadi mitra dalam memperbaiki kinerja keseluruhan operasi organisasi / perusahaan klien dengan meningkatkan sistem manajemen & kualitas sumber daya manusia ​

Our Clients

Picture
  • Astra International
  • LG Electronic Display Devices Indonesia
  • Pama Persada
  • Telkom
  • Pos Indonesia
  • Jasa Marga
  • ASDP
  • Kobatin
  • Timah
  • Departemen Pertambangan & Energi
  • Aneka Tambang
  • Adira Rent
  • ASCO Automotive
  • PT. Multi Modern Group
  • PT. Teja Mukti Utama
  • PT. Sucofindo
  • Hotel Bumi Senyiur-Samarinda
  • PT. TIKI JNE
  • Magister Akuntansi (MAKSI) Universitas Trisakti
  • Islamic Economics and Finance (IEF) – Universitas Trisakti
  • Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
  • Magister Psikologi Fakultas Psikologi Atma Jaya
  • PT. Buana Sakti (Sampoerna Strategic Square)
  • PT. EDS Manufacturing Indonesia (Astra Otopart Group)
  • PT. Adi Sarana Armada
  • Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Gorontalo
  • Puskesmas Kec. Pancoran
  • Kementrian Sosial RI
  • Kementrian Kesehatan RI
  • PT. SMT Indonesia
  • PT. BPR Universal Karya Mandiri Puncak (Bank)
  • CV. TIKI Palembang
  • PT. Luxindo Internusa
  • Hsin Ten Indonesia
  • Garuda Indonesia
  • PT. Metalindo Multidinamika Mandiri
  • PT. Global Mega Indonesia
  • PT. Kelola Jasa Artha (KEJAR)
  • PT. Bundo Bumi Lestari (Sumatera Barat)
  • CV. Hasta Raya (Sumatera Barat)
  • PT. Lingga Cargo (Sumatera Selatan)
  • PT. Bank Sahabat Sampoerna
  • PT. Sahabat Sejati Kapital
  • PT. SURYA HIDROMATIK PERKASA
  • CV. AZKA SYAHRANI
  • PT. Sarana Aneka Sejahtera
  • PT. Super Kemas Pratama
  • Incasi Raya Group (Sumatera Barat)
  • Gunas Group (Kalimantan Barat)
  • Rumah Sakit Islam Samarinda (Kalimantan Timur)
  • PT. Sumber Alfaria Trijaya
  • PT. Alam Lestari Unggul
  • PT. Poso Energy
  • PT. Sutra Kabel Intimandiri 
  • PT. Jayatama Selaras
  • PT. Rama Indonesia 
  • PT. Wipro Unza Indonesia 
  • Koperasi Konsumen Karyawan Sampoerna Strategic 
  • Jaringan Saudagar Muhammadiyah Riau 
  • Petrochina Company Ltd 
  • PT. Milko Beverage Industry
  • Dan Lain-Lain

Organization Development

Organization Development adalah bagan pengetahuan dan praktek yang meningkatkan performa organisasi dan pengembangan individu, melihat organisasi sebagai sistem kompleks dari sistem-sistem yang ada di dalam sistem yang lebih besar, yang masing-masing darinya memiliki derajat alignment dan atribut nya sendiri-sendiri. Intervensi OD dalam sistem-sistem tersebut merupakan pendekatan-pendekatan dan metode-metode yang inklusif terhadap perencanaan strategis, desain organisasi, pengembangan kepemimpinan, manajemen perubahan, manajemen performansi, coaching, diversity, dan work/life balance.” OD adalah bidang (ilmu) yang ditujukan pada intervensi-intervensi terhadap sistem-sistem (yang dibuat oleh) manusia, seperti kelompok formal dan informal, komunitas, serta masyarakat, untuk meningkatkan efektivitas dan kesehatannya dengan menggunakan berbagai macam disiplin yang berbeda, terutama menggunakan ilmu-ilmu perilaku (behavioral). OD menuntut para praktisinya untuk menyadari nilai-nilai yang memandu praktek-praktek mereka dan berfokus pada pencapaian hasil melalui orang-orang (dari organisasi).

​​Bagaimana Mencapai Kebahagiaan Dunia Dan Akhirat

​Beriman dan beramal shalih
​

Meraih kebahagiaan melalui iman ditinjau dari beberapa segi: Pertama, Orang yang beriman kepada Allah Yang Esa, Yang tiada sekutu bagi-Nya, dengan iman yang sempurna, bersih dari kotoran dosa,- maka dia akan merasakan ketenangan hati dan ketentraman jiwa. Dia tidak akan galau dan penat dalam menghadapi ujian hidup, sebaliknya dia ridha terhadap takdir Allah pada dirinya. Sehingga dia akan bersyukur terhadap kebaikan dan bersabar atas bala’. Ketundukan seorang mukmin kepada Allah membimbing ruhaninya untuk lebih giat bekerja karena merasa hidupnya memiliki makna dan tujuan yang berusaha diwujudkannya. Allah berfirman, 

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orangorang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’aam: 82).

Kedua, Iman menjadikan seseorang memiliki pijakan hidup yang mendorongnya untuk diwujudkan. Maka hidupnya akan memiliki nilai yang tinggi dan berharga yang mendorongnya untuk beramal dan berjihad di jalan-Nya. Dengan itu, dia akan meninggalkan gaya hidup egoistis yang sempit sehingga hidupnya bermanfaat untuk masyarakat di mana dia tinggal.

Ketika seseorang bersifat egois maka hari-harinya terasa sempit dan tujuan hidupnya terbatas. Namun ketika hidupnya dengan memikirkan fungsinya, maka hidup nampak panjang dan indah, dia akan merasakan hari-harinya penuh nilai.

Ketiga, Peran iman bukan saja untuk mendapatkan kebahagiaan, namun juga sebagai sarana untuk menghilangkan kesengsaraan. Hal itu karena seorang mukmin tahu dia akan senantiasa diuji dalam hidupnya sebagai konsekuensi keimanan, maka akan tumbuh dalam dirinya kekuatan sabar, semangat, percaya kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, memohon perlindungan kepada-Nya, dan takut kepada-Nya. Potensi-potensi ini termasuk sarana utama untuk merealisasikan tujuan hidup yang mulia dan siap menghadapi ujian hidup. Allah Ta’ala berfirman:

“Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Nisaa’: 104).

Memiliki akhlak mulia yang mendorong untuk berbuat baik kepada sesama
​
Manusia adalah makhluk sosial yang harus melakukan interaksi dengan makhluk sebangsanya. Dia tidak mungkin hidup sendiri tanpa memerlukan orang lain dalam memenuhi seluruh kebutuhannya. Jika bersosialisasi dengan mereka merupakan satu keharusan, sedangkan manusia memiliki tabiat dan pemikiran yang bermacam-macam, maka mungkin sekali akan terjadi kesalahpahaman dan kekhilafan yang membuatnya sedih. Jika tidak disikapi dengan bijak maka interaksinya dengan manusia akan menjadi sebab kesengsaraan dan membawa kesedihan dan kesusahan. Karena itulah, Islam memberikan perhatian besar terhadap akhlak dan pembinaannya. Hal ini dapat kita saksikan dalam beberapa ayat dan hadits berikut ini: 
  • Firman Allah dalam menyifati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam;
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam: 4).
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran: 159).

  • Perintah Allahkepada kaum mukminin agar tolong menolong dalam kebaikan;
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al Maidah: 2).

  • Perintah Allah agar membalas keburukan orang dengan kebaikan;
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QSl Fushshilat: 34-35).

Memperbanyak dzikir dan merasa selalu disertai Allah

Sesungguhnya keridhaan hamba tergantung pada tempat bergantungnya. Dan Allah adalah Dzat yang paling membuat hati hamba tentram dan dada menjadi lapang dengan mengingatNya. Karena kepada-Nya seorang mukmin meminta bantuan untuk mendapatkan kebutuhan dan menghindarkan dari mara bahaya. Karena itulah, syariat mengajarkan beberapa dzikir yang mengikat antara seorang mukmin dengan Allah Ta’ala sesuai tempat dan waktu, yaitu ketika ada sesuatu yang diharapkan atau ada sesuatu yang menghawatirkannya. Dzikir-dzikir tadi mengikat seorang hamba dengan penciptanya sehingga dia akan mengembalikan semua akibat kepada yang mentakdirkannya.​

Berikut ini beberapa nash yang menunjukkan hubungan dzikir dengan kebahagiaan seorang hamba,

  • Firman Allah Ta’ala:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al Ra’du: 28).

  • Doa ketika terjadi angin ribut:
“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan angin (ribut ini), kebaikan apa yang di dalamnya dan kebaikan tujuan angin dihembuskan. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan angin ini, kejahatan apa yang di dalamnya dan kejahatan tujuan angin dihembuskan.” (Muttafaq ‘Alaih).

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan untuk melakukan sebab (usaha), minta tolong kepada Allah, dan tidak sedih jika hasil yang diharapkan tidak terwujud.
“Bersemangatlah mencari yang bermanfaat bagimu, minta pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika engkau tertimpa musibah janganlah berkata: ‘Seandainya saya berbuat begini maka tentu tidak terjadi begitu.’ Namun katakanlah: ‘Allah telah menakdirkan musibah ini. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi’. Karena perkataan ‘Seandainya’ dapat membuka perbuatan syetan.” (HR. Muslim).

Menjaga kesehatan

Kesehatan di sini mencakup semua sisi; badan, jiwa, akal, dan ruhani. Menjaga kesehatan badan merupakan fitrah manusia, karena berkaitan dengan kelangsungan hidup dan juga menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan materi seperti makan, minum, pakaian, dan kendaraan.
  • Kesehatan fisik: Islam sangat menghargai kehidupan fisik manusia. Karenanya Islam melarang membunuh tanpa ada sebab yang dibenarkan syari’at sebagaimana Islam melarang setiap yang bisa membahayakan badan dan kesehatannya. 
“dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS. Al An’am: 151 dan al Isra’: 33).
  • Kesehatan jiwa: banyak orang yang tidak memperhatikan kesehatan jiwa dan tidak memperdulikan cara untuk menjaganya, padahal dia pilar pokok untuk meraih kebahagiaan. Karena itu, Islam sangat memperhatikan pendidikan jiwa dan menyucikannya dengan sifatsifat mulia. Kesehatan jiwa tegak dengan iman lalu dihiasi dengan akhlak terpuji dan disterilkan dari akhlak buruk seperti marah, sombong, berbangga diri, bakhil, tamak, iri, dengki, dan akhlak buruk lainnya.
​“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaahaa: 131) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “jika kalian bertiga, janganlah yang dua orang berbisik-bisik tanpa mengikutkan yang satunya sehingg mereka berkumpul dengan orang banyak supaya tidak membuatnya sedih.” (Muttafaq ‘Alaih)

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolokolok). Jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, boleh jadi wanitawanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok). Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS. Al Hujuraat: 11).

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujuraat: 12).
​
  • Kesehatan akal: Akal adalah sebab utama manusia mendapat taklif (beban syari’at). Karenanya Allah memerintahkan untuk menjaganya dan mengharamkan sesuatu yang membahayakan dan merusaknya. Sebab utama yang menghilangkan kesadaran akal adalah halhal yang memabukkan dan yang diharamkan. Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al Maaidah: 90-91).

  • Kesehatan ruhani: Syari’at sangat memperhatikan sarana-sarana yang bisa menjaga kesehatan ruhani. Makanya seorang mukmin diperintahkan untuk dzikrullah setiap saat sebagaimana mewajibkan, dalam batas minimal, untuk memenuhi nutrisi ruhani seperti perintah shalat wajib, puasa, zakat, haji dan medan yang lebih luas lagi dalam bentuk amal sunnah dan segala amal untuk mendekatkan diri kepada Allah.

    Ibadah-ibadah ini mengikat seorang hamba dengan Rabb-Nya dan mengembalikannya kepada Sang Pencipta ketika tersibukkan oleh dunia. Karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “dan dijadikan kebahagiaan hatiku dalam shalat.” Beliau bersabda kepada Bilal, “wahai bilal, hibur kami dengan shalat".

    Syari’at juga melarang segala tindakan yang bisa merusak ruhani dan melemahkannya. Syari’at melarang mengikuti hawa nafsu, mengerjakan hal syubuhat, dan memanjkan diri dalam kenikmatan karena biasa menyebabkan hati menjadi mati. Karena itulah Allah menyifati orang-orang kafir laksana binatang, “Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al Furqaan: 44).

“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12).

Berusaha meraih materi yang mendatangkan kebahagiaan

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Islam tidak mengingkari urgensi meteri untuk merealisasikan kebahagiaan. Hanya saja, semua materi ini bukan sebagai syarat mutlak untuk mendapatkan kebahagiaan, namun hanya sebagai sarana saja. Banyak nash menguatkan kenyataan ini, di antaranya firman Allah Ta’ala,

“Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (QS. Al A’raaf: 32).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “sebaik-baik harta adalah yang dimiliki hamba shalih.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “di antara unsur kebahagiaan anak Adam: istri shalihah, tempat tinggal luas, dan kendaraan nyaman.“


Memanajemen waktu, karena waktu adalah modal utama manusia selama hidup di dunia. Oleh sebab itu, Islam sangat memperhatikan waktu dan akan meminta pertanggungjawaban seorang mukmin tentang waktunya. Dan kelak di hari kiamat, dia akan ditanya tentang waktunya. Perintah dalam Islam sangat membantu manusia untuk mengatur waktunya dan memanfaatkannya dengan baik antara memenuhi kebutuhan hidup dan materinya di satu sisi, dan untuk memenuhi kebutuhan ruhani dan ibadah pada sisi lainnya. Islam telah memerintahkan orang beriman agar memanfaatkan waktu untuk kebaikan dan amal shalih.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orangorang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?’.” (QS. Al Munaafiquun: 9-10).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak tergelincir dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal: Umurnya, untuk apa selama hidupnya dihabiskan; Waktu mudanya, digunakan untuk apa saja; Hartanya, darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskannya; Ilmunya, apakah diamalkan atau tidak.” (HR. Tirmidzi).

Andes And Associates 
  • HOME
  • PROFILE
  • SERVICES
  • THE NEW ONLINE TRAINING PROGRAM
  • CONTACT